Facebook

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 15 Januari 2015

Teori Belajar

TEORI BELAJAR
Apa Teori ?
Teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai sesuatu peristiwa. (Kamus Besar Indonesia cetakan ke IV th 1995)
Apa Konsep ?
Konsep adalah pengertian yang di abstrakkan dari peristiwa kongkrit (Kamus Besar Indonesia cetakan ke IV th 1995)

Kata belajar menurut KBBI adalah
(1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu: adik ~ membaca;
(2)berlatih: ia sedang ~ mengetik; murid-murid itu sedang ~ karate;
(3) berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman.
BELAJAR menurut Hilgard dan Brower mendefinisikan sebagai perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas praktek dan pengalaman.

BELAJAR merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan.
Perubahan tingkah laku berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia ada dua pandangan yaitu :
1.    Pandangan Jhon locke yang memberikan pandangan bahwa manusia itu merupakan organism yang bersifat pasif. Dengan teori tabularasanya  yang menganggap bahwa manusia itu seperti kertas putih, hendak ditulisi apa kertas itu sangat tergantung orang yang menulisnya pandangan ini memunculkan aliran belajar behavioristik-elementeristik.
2.    Pandangan liebnitz menanggap bahwa manusia adalah organisme yang aktif. Manusia merupakan  sumber dari semua kegiatan. Pandangan ini memunculkan aliran belajar kognitif holistic.
Macam-macam Teori Belajar
Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu: teori belajar behaviorisme,  teori belajar kognitivisme, dan  teori belajar konstruktivisme.  
1.    Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati pembelajaran.
2.    Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak.
3.    Dan pandangan konstruktivisme belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau konsep.

aTeori belajar yang termasuk kedalam teori belajar behavioristik
1.    Koneksionisme. Dengan tokohnya Thorndike.
Bahwa terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon (S - R). adapun hokum-hukum belajarnya adalah :
a.    Hukum Kesiapan (law of readiness) hubungan antara S-R akan mudah terbentuk apabila ada kesiapan dalam diri individu.
b.    Hokum Latihan (law of exercise) hukum ini menunjukan bahwa hubungan S-R akan semakin kuat manakala terus menerus dilatih atau banyakpengulangan.
c.    Hokum akibat (law of effect) kuat atau tidaknya hubungan S-R tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya.
Dari ketiga hokum ini konsep penting teori belajar koneksionesme ini adalah transfer of training .
2.    Classical conditioning dengan tokohnya Pavlop dan Watson
Teori ini menunjukan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tetentu.
3.    Operant Conditioning dengan tokohnya Skiner.
Teori menyebutkan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu perlu diurutkan atau dipecah-pecah menjadi bagian-bagian atau komponen-komponen tingkah laku yang spesifik, selanjutnya agar terbentuk pada tingkah laku yang diharapkan pada setiap tingkah laku yang spesipik yang telah direspon perlu diberikan hadiah (reinforcer) agar tingkah laku it uterus menerus diulang serta memotivasi agar berlanjut kepada tahap komponen tingkah laku selanjutnya sampai akhirnya pada pembentukan tingkah laku puncak yang diharapkan.
Teori ini yang melahirkan adanya Teknologi Pembelajaran.
4.    Systematic behavior dengan tokohnya Hull
5.    Contiguous conditioning dengan tokohnya Guthrie

Teori belajar kognitif
1.    Teori Gestalt tokohnya Kofka, Kohler dan Wertheimer
Menurut teori ini adalah proses mengembangkan insight. (pemahaman terhadap hubungan antar bagian dalam suatu situasi permasalahan.
2.    Teori medan tokohnya Kurt Lewin
Belajar adalah proses pemecahan masalah.

Teori belajar Konstruktivistik
Tokoh dari teori ini adalah Piaget menurut dia bahwa pada dasarnya manusia sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi kemampuannya sendiri





Karakteristik Anak SD

Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Masa usia sekolah dasar sebagai mesa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah.
Sedang menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan.
Menurut Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), penyalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses pengaturan sendiri (self-regulation ) Erikson mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil belajar.
Mereka mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuan dan pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun anak-anak membutuhkan keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan kenyataan yang dapat mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan dapat memaksa mereka berperasaan negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga menghambat mereka dalam belajar. Piaget mengidentifikasikan tahapan perkembangan intelektual yang dilalui anak yaitu : (a) tahap sensorik motor usia 0-2 tahun, (b) tahap operasional usia 2-6 tahun, (c) tahap opersional kongkrit usia 7-11 atau 12 tahun, (d) tahap operasional formal usia 11 atau 12 tahun ke atas.
Berdasarkan uraian di atas, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, pada tahap ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta perseptual, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi.
Bertitik tolak pada perkembangan intelektual dan psikososial siswa sekolah dasar, hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakteristik sendiri, di mana dalam proses berfikirnya, mereka belum dapat dipisahkan dari dunia kongkrit atau hal-hal yang faktual, sedangkan perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar masih berpijak pada prinsip yang sama di mana mereka tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang dapat diamati, karena mereka sudah diharapkan pada dunia pengetahuan.
Pada usia ini mereka masuk sekolah umum, proses belajar mereka tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, karena mereka sudah diperkenalkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan masyarakat. Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri, (5) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (6) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama.
Seperti dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama.
Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa hendaknya diberi kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun dalam kelompok.


Karakteristiknya antara lain:
1.Senang bermain,
Maksudnya dalam usia yang masih dini anak cenderung untuk ingin bermain dan
menghabiskan waktunya hanya untuk bermain karena anak masih polos yang dia tahu
hanya bermain maka dari itu agar tidak megalami masa kecil kurang bahagia anak
tidak boleh dibatasi dalam bermain. Sebagai calon guru SD kita harus mengetahui
karakter anak sehingga dalam penerapan metode atau model pembelajaran bisa sesuai
dan mencapai sasaran, misalnya model pembelajran yang santai namun serius, bermain
sambil belajar, serta dalam menyusun jadwal pelajaran yang berat(IPA, matematika
dll.) dengan diselingi pelajaran yang ringan(keterampilan, olahraga dll.) 

2.Senang bergerak,
Anak senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik dan mentalnya anak
menjadi hiperaktif lonjak kesana kesini bahkan seperti merasa tidak capek mereka
tidak mau diam dan duduk saja menurut pengamatan para ahli anak duduk tenang
paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, kita sebagai calon guru hendaknya
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.
Mungkin dengan permaianan, olahraga dan lain sebagainya.

3.Senang bekerja dalam kelompok
Anak senang bekerja dalam kelompok maksudnya sebagai seorang manusia,
anak-anak juga mempunyai insting sebagai makhluk social yang bersosialisasi dengan
orang lain terutama teman sebayanya, terkadang mereka membentuk suatu kelomppok
tertentu untuk bermain. Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturan
aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya
dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang
lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan
demokrasi. Hal ini dapat membawa implikasi buat kita sebagai calon guru agar
menetapkan metode atau model belajar kelompok agar anak mendapatkan pelajaran
seperti yang telah disebutkan di atas, guru dapat membuat suatu kelompok kecil
misalnya 3-4 anak agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan
pendapat dan sifat dari anak-anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak
dalam satu kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya
bersama, disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai
pendapat orang lain juga.

4.Senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional
konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep
konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi dalam pemahaman anak SD semua materi
atau pengetahuan yang diperoleh harus dibuktikan dan dilaksanakan sendiri agar
mereka bisa paham dengan konsep awal yang diberikan. Berdasarkan pengalaman ini,
siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan,
pera jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Dengan demikian kita sebagai calon guru
hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung
dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah
mata angina, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk
langsung setiap arah angina, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan
diketahui secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.

5.Anak cengeng
Pada umur anak SD, anak masih cengeng dan manja. Mereka selalu ingin
diperhatikan dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus
selalu dibimbing. Di sini sebagai calon guru SD maka kita harus membuat metode
pembelajaran tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membmbing dan
mengarahkan anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng.

6.Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain.
Pada pendidikan dasar yaitu SD, anak susah dalam memahami apa yang diberikan
guru, disini guru harus dapat membuat atau menggunakan metode yang tepat misalnya
dengan cara metode ekperimen agar anak dapat memahami pelajaran yang diberikan
dengan menemukan sendiri inti dari pelajaran yang diberikan sedangkan dengan
ceramah yang dimana guru Cuma berbicara didepan membuat anak malah tidak pmemahami
isi dari apa yang dibicarakan oleh gurunya.

7.Senang diperhatikan
Di dalam suatu interaksi social anak biasanya mencari perhatian teman atau
gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai cara
dilakukan agar orang memperhatikannya. Di sini peran guru untuk mengarahkan
perasaan anak tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab misalnya, anak yang
ingin diperhikan akan berusaha menjawab atau bertantya dengan guru agar anak lain
beserta guru memperhatikannya.

8.Senang meniru
Dalam kehidupan sehari hari anak mencari suatu figur yang sering dia lihat
dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang
yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh
acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu, misalkan acara smack
down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang
melakukan gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat temannya
terluka. Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu
ditonton sebagai calon guru kita hanya dapat mengarahkan orang tua agar selalu
mengawasi anaknya saat dirumah.
Contoh lain yang biasanya ditiru adalah seorang guru yang menjadi pusat perhatian
dari anak didiknya. Kita sebagai calon guru harus menjaga tindakan, sikap,
perkataan, penampilan yang bagus dan rapi agar dapat memberikan contoh yang baik
untuk anak didik kita.




Fenomena HP di Maysrakat

FENOMENA TELEPON GENGGAM ( HAND PHONE)
Oleh : ASEP CAHYADIN

Apakah fenomena itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan fenomena adalah hal-hal yg dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah. Fenomena dapat kita lihat dan kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari apapun dan bagamanapun itu. Salah satu contohnya bahwa masryarakat Indonesia sekarang pada umumnya telah menggunakan Handphone (HP) sebagai alat komunikasi, baik masyarakat perkotaan maupun sampai ke masyarakat pedesaan. Bahkan Hand Phone atau telepon genggam bukanlah alat mewah yang hanya dipakai oleh kalangan orang kaya tetapi kalangan orang yang miskin pun sudah memakainya. Bahkan penulis pernah menjumpai pedagang kaki lima menjajakan dagangannya dengan HP juga pernah melihat para pengemis menggunakan alat ini untuk berkomunikasi entah dengan siapa. Yang jelas bahwa Handphone atau telepon genggam adalah sebuah alat yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat baik kalangan atas maupun kalangan rendah yang menjadi fenomena yang tidak aneh lagi.
Telepon genggam atau lebih dikenal dengan istilah Handphone (HP) dalam definisi situs Wikipedia adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap namun bisa dibwa kemana-mana (portable) dan tidak perlu disambungkan ke jaringan kabel. Saat ini Indonesia termasuk negara dengan pemakaian HP terbesar di dunia. Menurut data mei 2009, Indonesia menempati posisi ke enam negara di dunia yang paling banyak menggunakan HP setelah Cina, India, Amerika Serikat, Rusia, dan Brazil dengan 73,1 % dari jumlah populasi penduduk Indonesia. Atau sekit 191,480,630 juta jiwa.
Data ini jelas menggambarkan bahwa fenomena sosial dari alat komunikasi ini merupakan fenomena yang tidak bisa disepelekan. Karena fungsi nya pun sudah bergeser bukan hanya sebagai alat komunikasi namun juga sebagai gaya hidup (life style). Saya akan mencoba menjelaskan fenomena ini dari aspek sosiologis. Mulai dari awal mula kegunaannya sampai dengan dampak fenomenanya terhadap perekonomian masyarakat Indonesia.
Handphone (HP) merupakan alat elektronik yang terbilang unik karena bisa dimiliki oleh semua golongan. Kaya, miskin, tua, muda. Semuanya menggunakan alat komunikasi ini. Dan alat elektronik ini ternyata mempunyai perkembangan sejarah yang cukup panjang. Diawali dengan HP generasi pertama, kedua, ketiga, dan keempat yaitu yang sekarang paling canggih dan modern semisal HP 4G yang dilengkapi wireless broadband (WiBro),CDMA, wireless LAN, Bluetooth, dll. Perkembangan handphone mulai masuk indonesia sekita tahun 1998, pada tahun tersebut handphone hanya digunakan untuk menelepon saja dan harganya pun sangat tinggi sekali sekitar 10 jt rupiah. Vendor-vendor yang pertama kali mengeluarkan handphone semisal siemens, ericsson, dan nokia. Pada masa tersebut pula lah kartu perdana yang dipergunakan harganya sangat mahal sekitar 500 ribu rupiah dan masih memiliki sistem roaming yang mengharuskan kita memiliki pulsa walaupun hanya menerima panggilan saja.
Lalu apa sebabnya menjamurnya pengguna HP di Indonesia? Tak lain dan tak bukan disebabkan oleh industrialisasi HP oleh korporasi multinasional seperti Ericsson, Siemens, Nokia, dan lain-lain.
Pemasaran besar-besaran membuat harga HP semakin murah dan mudah untuk dimiliki. Di lain pihak juga menjamurnya bisnis operator generasi awal seperti Telkomsel, Pro XL, dan lain-lain. Lalu disusul bisnis operator generasi akhir seperti Indosat, Three, Axis, Smart, dll. Yang menambah persaingan di dunia operator telephone seluler yang pastinya membuat berbagai aplikasi dan persaingan harga yang tentunya membuat harga semakin murah dan terjangkau.Kondisi ini semakin diperparah dengan disetujuinya ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA). Maka HP buatan China pun semakin meramaikan industri ponsel di Indonesia. Dengan model dan fitur yang menawan dan harga yang terjangkau maka HP China ini semakin digandrungi.  Belum lagi jika kita melihat fenomena ponsel Blackberry. Maka kita semakin bisa menyimpulkan bahwa HP pada saat in bukan lagi sebagai kebutuhan, melainkan menjadi gaya hidup.
Hanphone (HP) pun mempunyai dampak di bidang Ekonomi yang tidak sedikit. Counter HP, pulsa, dan servis HP pun menjadi lapangan pekerjaan bagi Usaha Kecil Menengah (UKM). Ada banyak tenaga kerja yang hanya memiliki skil yang pas-pas an bisa terjun di usaha ini. Tanpa ada skil yang memadai, mereka menjadi pramuniaga di counter atau toko HP yang kini menjamur di setiap kota. Dari mulai yang hanya menjadi penjaga, kasir, sampai teknisi. Maka jelas, fenomena menjamurnya HP ini membuat dampak positif pula di bidang ekonomi. Khususnya Usaha Kecil Menengah.
Namun fenomena HP ini mempunyai dampak negatif mengenai masalah gaya hidup, terutama di kalangan remaja bahkan anak-anak. Di zaman globalisasi ini, ternyata anak kecil tidak bisa terhindarkan dari efek fenomena HP ini. Buktinya anak-anak TK pun sudah ‘melek’ HP terutama merek Blackberry. Ini terjadi umumnya di kota-kota besar. Walaupun tidak tertutup kemungkinan bahwa anak-anak seumuran TK di desa pun sudah terkean efek dan imbas dari globalisasi. Jelas, ini bukan merupakan kabar gembira. Karena pada umur se-dini itu seharusnya para orang tua mengoptimalkan kemampuan panca indera dan kemampuan non-teknologi. Agar ketika dewasa tidak terlalu bergantung pada teknologi.
Belum jika kita melihat fenomena HP yang terjadi pada gaya hidup remaja kita. Blackberry terasa seperti barang wajib jika ingin diakui trendi dan gaul. Bukan tentang fungsi dan kegunaannya, namun lebih gengsi dan gaya saja. Sudah barang tentu, remaja tipe seperti ini adalah remaja yang bukan diperlukan untuk menjadi generasi penerus bangsa ini. Menurut saya, boleh pakai Blackberry asal alasannya karena memang butuh untuk menggunakan fungsinya. Bukan karena gengsi dan gaya. Jika karena alasan seperti itu mereka mengkonsumsi HP mewah, maka saya khawatir bahwa timbul pengikutan besar-besaran oleh para masyarakat lapisan bawah. Mereka menyaksikan HP mewah itu di sinetron atau TV misalnya, tapi karena kesenjangan yang begitu jauh memisahkan antara lapisan atas dan bawah, mereka pun melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Seperti misalnya, banyak yang mau menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) dari kalangan remaja disebabkan keinginan mereka hidup dengan barang-barang mewah.
Dari sisi lingkungan sudah jelas, bahwa industrialisasi secara massive akan memberi pencemaran lingkungan. Negara-negara industri seperti Amerika Serikat, terbukti berperan besar dalam pencemaran lingkungan yang menyebabkan global warming. Perusahaan elektronik, termasuk HP, juga bertanggung jawab atas pencemaran lingkungan ini. Dan sampai saat ini belum ada perusahaan elektronik, termasuk HP, membuat dan memasarkan produknya secara luas. Maka, sudah selayaknya lah kita semakin bijak dalam menyikapi fenomena HP ini. menjadikan HP sebagai gengsi dan gaya bukanlah merupakan sifat yang bijak. Gunakanlah dengan bijaksana apa yang menjadi tanggung jawab kita. Semoga dengan tulisan ini bisa memberi manfaat bagi kita semua.
Sumber : di sadur dari berbagai sumber di Internet

Kedua program aplikasi tersebut apabila dimanfaatkan dalam proses pembelajaran akan memberikan pengaruh yang berarti. Terjadinya proses pembelajaran yang inofativ, komunikatif, kreatif dan menyenangkan akan terwujud melalui pemanfaatan MMI dan M learning.


MAKALAH MANAJEMEN PESERTA DIDIK

MAKALAH MANAJEMEN PESERTA DIDIK
OLEH ASEP CAHYADIN, M.Pd

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan (sekolah) akan sangat bergantung pada kegiatan manajemen. Dalam penyelenggaraannya terdiri dari berbagai komponen-komponen pendukung seperti kurikulum, peserta didik, pembiayaan, tenaga pelaksana, dan sarana prasarana. Pengelolaan setiap komponen satu sama lainnya yang saling melengkapi menjadi suatu indikator pencapaian keberhasilan dalam proses pelaksanaan kegiatannya.
Salah satu komponen yang dianggap paling penting adalah komponen peserta didik, bahwa komponen ini merupakan subyek sekaligus objek dalam proses penyelenggaraan pendidikan dan transformasi ilmu pengetahuan. Keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan akan sangat bergantung dengan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional dan kejiwaan peserta didik. Manajemen peserta didik merupakan penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai dari siswa itu masuk sampai dengan keluar dari suatu sekolah.
Belum lama ini pemerintah melalaui Kementrian Pendidikan Nasional menggulirkan salah satu program pendataan untuk sekolah-sekolah secara Nasional. Program pendataan ini dinamakan dengan Aplikasi Dapodik yaitu sebuah aplikasi pendataan untuk Pendidik (guru), Tenaga Kependidikan ( TU), Peserta Didik dan keadaan sekolah secara keseluruhan. Program ini berhubungan dengan Teknologi Informasi, yang memberikan akses langsung ke pusat dalam pelaporannya secara On line.
            Setelah hampir menuju satu tahun dalam kegiatan program ini, proses-proses yang berhubungan khususnya dengan manajemen peserta didik jadi lebih mudah, cepat dan akurat dalam pelaksanannya. Dari latar belakang tadi akan di ulas sebuah studi kasus mengenai Peranan Aplikasi Dapodik Dalam Meningkatkan Manajemen Peserta Didik yang dikhususkan di SDN Karanganyar 3 Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut.

B.     Pembatasan Masalah
Seperti yang telah disampaikan dalam latar belakang bahwa kegiatan manajemen disekolah terdiri dari beberapa komponen.Untuk lebih memfokuskan pada permasalahan yang akan diungkap dalam makalah ini penulis membatasi pada salah satu kegiatan manajemen peserta didik. Supaya pembahasan tidak terlalu melebar maka pembatasan masalah pada makalah ini dikhususkan  pada salah satu peranan program aplikasi dapodik terhadap manajemen peserta didik.

C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang dan pembatasan masalah yang telah disampaikan maka munculah beberapa perumusan masalah yang akan dibahas diantaranya :
1.      Apakah Manajemen Peserta Didik itu?
2.      Apa tujuan, fungsi, peran dan ruang lingkup Manajemen Peserta Didik?
3.      Apakah Aplikasi Dapodik itu?
4.      Bagaimana Peranan Aplikasi Dapodik terhaadap Peningkatan Manajemen Peserta Didik di SDN Karanganyar 3 ?

D.       Tujuan Pembuatan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah tadi maka tujuan pembahasan disini adalah:
1.      Ingin mengetahui pengertian Manajemen Peserta Didik.
2.      Ingin mengetahui  tujuan, fungsi, peran dan ruang lingkup Manajemen Peserta Didik?
3.      Ingin mengetahui pengertian Aplikasi Dapodik
4.      Ingin mengetahui Peranan Aplikasi Dapodik terhadap Peningkatan Manajemen Peserta Didik di SDN Karanganyar 3 ?

E.     Manfaat Hasil Pembahasan
Penulis mengharapkan hasil dari pembahasan dapat dimanfaatkan oleh para pelaksana pendidikan secara umum dan khususnya bagi penulis. Dengan Aplikasi Dapodik Manajemen Peserta Didik dapat terbantu, lebih mudah, cepat dan akurat. Untuk itu sebagai bahan referensi pembahasan ini diharapkan dapat digunakan oleh pihak sekolah khususnya para operator dalam menjalankan tugasnya dalam pengelolaan peserta didik melalui Aplikasi Dapodik.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Pengertian Manajemen Peserta Didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu (UUSPN: 2003). Sedangkan manajemen peserta didik adalah seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja serta pembinaan secara kontinu terhadap seluruh peserta didik (dalam lembaga pendidikan yang bersangkutan) agar dapat mengikuti proses PBM dengan efektif dan efisien.
Dari pengertian beberapa ahli, bisa dikatakan bahwa peserta didik adalah orang/individu yang mendapat pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan agar tumbuh dan berkembang dengan baik serta mempunyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh pendidiknya. Demikian juga Hamalik menambahkan bahwa siswa adalah suatu organisme yang hidup, di dalam dirinya beraneka ragam kemungkinan potensi yang hidup dan berkembang.
Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Manajemen Peserta Didik atau Pupil Personnel Administration adalah layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti penggembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.
Manajemen Peserta Didik juga dapat diartikan sebagai suatu proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa di suatu sekolah mulai dari perencanaan, penerimaan siswa, pembinaan yang dilakukan selama siswa berada di sekolah, sampai dengan siswa menyelesaikan pendidikannya di sekolah. Dengan kata lain manajemen kesiswaan merupakan keseluruhan proses penyelenggaraan usaha kerjasama dalam bidang kesiswaan dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah.
Dengan demikian Manajemen Peserta Didik itu bukanlah dalam bentuk kegiatan-kegiatan pencatatan peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas, yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan.

B.     Tujuan, fungsi, peran dan ruang lingkup Manajemen Peserta Didik
Tujuan Manajemen Peserta Didik adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah); lebih lanjut, proses pembelajaran di lembaga tersebut (sekolah) dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Tujuan Manajemen Peserta Didik adalah menata proses kesiswaan mulai dari perekrutan, mengikuti pembelajaran sampai dengan lulus sesuai dengan tujuan institusional yang berlangsung secara efektif dan efisien.
Fungsi Manajemen Peserta Didik adalah sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangakan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosial, aspirasi, kebutuhan dan segi-segi potensi peserta didik lainnya.
Agar tujuan dan fungsi manajemen peserta didik dapat tercapai, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a.     Penyelenggara harus mengacu pada peraturan yang berlaku pada saat program dilaksanakan.
b.    Manajemen peserta didik harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen sekolah secara keseluruhan.
c.     Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik peserta didik.
d.    Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta yang mempunyai keragaman latar belakang dan punya banyak perbedaan.
e.     Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik.
f.     Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik.
g.    Kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik, baik di sekolah lebih-lebih di masa depan
Manajemen peserta didik itu bukanlah dalam bentuk pencatatan data peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat digunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.

Ruang lingkup Manajemen Peserta Didik itu meliputi:
1.      Analisis Kebutuhan Peserta Didik
Langkah pertama dalam kegiatan manajemen peserta didik adalah melakukan analisis kebutuhan yaitu penetapan siswa yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan (sekolah). Kegiatan yang dilakukan dalam langkah ini adalah:
a.Merencanakan jumlah peserta didik yang akan diterima
b.Menyusun progam kegiatan kesiswaan
2.      Rekruitmen Peserta Didik
Rekruitmen peserta didik di sebuah lembaga pendidikan (sekolah) pada hakikatnya adalah merupakan proses pencarian, menentukan dan menarik pelamar yang mampu untuk menjadi peserta didik di lembaga pendidikan (sekolah) yang bersangkutan.
Langkah-langkah rekruitmen peserta didik (siswa baru) adalah sebagai berikut:
a. Pembentukan panitia penerimaan siswa baru
b. Pembuatan dan pemasangan pengumuman penerimaan peserta didik baru yang dilakukan secara terbuka.
3.      Seleksi Peserta Didik
Seleksi peserta didik adalah kegiatan pemilihan calon peserta didik untuk menentukan diterima atau tidaknya calon peserta didik menjadi peserta didik di lembaga pendidikan (sekolah) tersebut berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Adapun cara-cara seleksi yang dapat digunakan adalah:
a.       Melalui tes atau ujian
b.    Melalui penelusuran bakat kemampuan
c.     Berdasarkan nilai STTB/SKHU atau nilai UAN
4.      Orientasi
Orientasi peserta didik adalah kegiatan penerimaan siswa baru dengan mengenalkan situasi dan kondisi lembaga pendidikan (sekolah) tempat peserta didik itu menempuh pendidikan. Tujuan diadakannya orientasi bagi peserta didik antara lain:
a. Agar peserta didik dapat mengerti, memahami dan mentaati segala peraturan yang berlaku di sekolah
b.    Agar pesera didik dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan sekolah
c.     Agar peserta didik siap menghadapi lingkungannya yang baru baik secara fisik, mental dan emosional sehingga ia merasa betah dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah serta dapat menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
5.      Penempatan Peserta Didik (Pembagian Kelas)
Sebelum peserta didik yang telah diterima pada sebuah lembaga pendidikan (sekolah) mengikuti proses pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditempatkan dan dikelompokkan dalam kelompok belajarnya. Pengelompokan peserta didik yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah sebagian besar didasarkan kepada sistem kelas.
6.      Pembinaan dan Pengembangan Peserta Didik
Pembinaan dan pengembangan peserta didik dilakukan sehingga anak mendapatkan bermacam-macam pengalaman belajar untuk bekal kehidupannya di masa yang akan datang.
7.      Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan tentang kondisi peserta didik perlu dilakukan agar pihak lembaga dapat memberikan bimbingan yang optimal pada peserta didik.
8.      Kelulusan dan Alumni
Proses kelulusan adalah kegiatan paling akhir dari manajemen peserta didik. Kelulusan adalah pernyataan dari lembaga pendidikan (sekolah) tentang telah diselesaikannya program pendidikan yang harus diikuti oleh peserta didik. Ketika peserta didik sudah lulus, maka secara formal hubungan antara peserta didik dan lembaga telah selesai. Namun demikian, diharapkan hubungan antara para alumni dan sekolah telah terjalin. Hubungan antara sekolah dan para alumni dapat dapat dipelihara lewat pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh para alumni yang tergabung dalam IKA (Ikatan Alumni) dan biasanya melakukan suatu kegiatan yang disebut “reuni”.

C.  Pengertian Aplikasi Dapodik
            Aplikasi Dapodik adalah salah satu program software yang diluncurkan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan dan entri data (pendataan) secara nasional supaya lebih mudah, cepat dan akurat. Aplikasi ini dibuat  secara digital dalam rangka memudahkan dalam pengelolaan data yang lebih efektif dibandingkan dengan pengelolaan data secara manual.
Tujuan utama dari Aplikasi dapodik adalah pendataan tingkat sekolah untuk memperoleh data secara langsung yang cepat, akurat, valid,  lengkap,  dapat dipertanggungjawabkan dan termutakhir. Data dari sekolah  akan  digunakan  oleh  Kementerian  Pendidikan  dan  Kebudayaan  serta  Dinas Pendidikan  Provinsi  dan  Kabupaten/Kota  untuk  perencanaan  dan  evaluasi  program pendidikan.
            Program Aplikasi Dapodik mempunyai dasar hukum diantaranya :
1.      Permendiknas No 51 Tahun 2011
2.      Instruksi Mentri Pendidikan Nasional No. 2 Tahun 2011
3.      Surat edaran Mendagri No.890/2173/sj
4.      Surat edaran Balitbang PSD No. 1892/G.G4/LL/2009
Aplikasi Dapodik mempunyai konsep pendataan satu pintu, maksudnya data yang disampaikan dari berbagai sekolah langsung terinput (masuk) dalam satu server di Kementrian Pendidikan Nasional. Data yang di sampaikan tidak tinggal dulu di satu lembaga ke lembaga lain tetapi langsung bisa diterima oleh pusat, artinya kegiatan ini memangkas waktu, tenaga, biaya dan lain sebagainya.
Data yang disampaikan adalah data gabungan tentang seluruh keadaan sekolah dari data Pendidik, Tenaga Kependidikan, Peserta Didik dan Manajemen sekolah termasuk didalamnya keadaan sekolah secara menyeluruh. Dengan integrasi data pokok pendidikan seperti ini pusat jadi lebih mengetahui dan memahami keadaan yang sebenarnya di setiap sekolah. Dari data ini menjadi pertimbangan oleh Pusat (Kemendiknas) untuk meluncurkan program-program pendidikan yang tepat sasaran.
Kegunaan yang lain dari Aplikasi Dapodik bahwa data  yang  diperoleh  dari  sekolah  akan  digunakan  untuk  dasar  perencanaan,  evaluasi dan  kebijakan  nasional serta dasar bagi pemerintah pusat dan daerah untuk pemberian
bantuan kepada sekolah yang antara lain mencakup program:
1.  Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari sumber APBN
2.  Bantuan Operasional Sekolah dari sumber APBD (BOSDA/BOSP)
3. Rehabilitasi ruang belajar (ruang kelas, perpustakaan, laboratorium,dan lain sebagainya)
4.  Dana Alokasi Khusus (DAK)
5.  Ruang Kelas Baru
6.  Subsidi bagi siswa kurang mampu secara ekonomi
7.  Subsidi/tunjangan bagi guru
8.  Dan lain sebagainya.
Konsekuensi dari pendataan dengan Aplikasi Dapodik sebagaimana  telah  disebutkan  sebelumnya,  kelengkapan  data  yang  akan  dikiirm  oleh sekolah  akan  menjadi  dasar  pemberian  jenis  dan  besar  bantuan  dari  pemerintah  dan
pemerintah daerah kepada masing-masing sekolah. Oleh karena itu, sekolah yang tidak memberikan  data  tidak  akan  dapat  dialokasikan  segala  jenis  bantuan  kepada  sekolah yang  bersangkutan.  Demikian  juga,  data  yang  tidak  akurat,  akan  mengakibatkan ketidak tepatan  jenis  dan  besar  bantuan  yang  diberikan.  Sekolah diharuskan memberikan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, karena data tersebut akan dijadikan dasar untuk evaluasi dan audit kepada sekolah.
BAB IV
PEMBAHASAN
A.    Profil Sekolah
Sekolah Dasar Negeri Karanganyar III adalah salah satu sekolah tingkat dasar yang berada di Kabupaten Garut. Tepatnya berada di daerah perkampungan dengan latar belakang masyarakat yang menyekolahkan putra-putrinya adalah petani. Masyarakatnya adalah petani garapan sawah yang masih konvensional dengan menggunakan media tradisional dalam mengelola garapannya. Hal ini berkaitan erat dengan tingkat ekonomi masyarakatnya yaitu berpenghasilan menengah kebawah.
     Sekolah kami bukanlah sekolah bonafit yang didukung oleh sarana prasarana yang memadai untuk menunjang kegiatan pembelajaran baik intrakulikuler maupun ekstrakulikuler. Adanya dana yang digelontorkan oleh pemerintah melalui program BOS, kami mengoptimalkan anggaran tersebut untuk dapat menyentuh semua aspek program kegiatan diantaranya program Manajemen Peserta Didik.
Dengan diluncurkannnya Program Aplikasi Dapodik SDN Karanganyar 3 menyambut baik kegiatan program ini. Dengan dana yang ada memaksa sekolah  untuk mempersiapkan dalam hal perangkat penunjang kegiatannya. Tentu saja karena berhubungan dengan Teknologi Informasi maka perangkat computer dalam hal ini Laptop menjadi salah satu perangkat penunjang yang harus dimilki. Selain itu keberadaan Internet untuk berhubungan dan mengakses seluruh kegiatannya menjadi unsur yang harus disediakan.
Dengan visi dan misi yang kami jadikan pijakan dalam menjalankan kegiatan persekolahan, kami yakin dapat melayani peserta didik sesuai dengan amanat yang disampaikan dalam perundang-undangan dan peraturan-peraturan pendidikan lainnya. Adapun visi misi sekolah kami adalah :
VISI
Terwujudnya peserta didik yang berakhlak mulia, berprestasi, terampil dan mandiri.
Misi
1.      Meningkatkan amalan tuntunan agama dengan tertib serta semangat toleransi  kehidupan beragama yang tinggi.
2.      Mengoptimalkan proses pembelajaran sehingga hasil belajar meningkat, diantaranya melalui kegiatan les, dan kegiatan ekstrakurikuler.
3.      Mengembangkan keterampilan peserta didik melalui pendiddikan life skill.
4.      Mengembangkan potensi peserta didik dalam rangka membentuk pribadi yang mandiri.
 Berikut akan di sampaikan mengenai profil lengkap sekolah SDN Karanganyar III :
1.      Nama Sekolah                               : SDN KARANGANYAR III
2.      Alamat Sekolah                             :
a.       Jalan                                        : Kp. Pasirganas
b.      Desa                                        : Karanganyar
c.       Kecamatan                              : Leuwigoong
d.      Kabupaten                               : Garut
e.       Provinsi                                   : Jawa Barat
f.       Kode Pos                                : 44192
g.      Nomor HP                               : 085294481985
h.      Fax                                          : -
i.        e-mail                                      : www.pasdafc@gmail.com
3.      Tahun Operasional                        : 1979
4.      Status Tanah                                 : Pemerintah Daerah/Hibah
5.      Tegangan/Daya Listrik                  : 220 Volt/ 450 watt
6.      Nama Bank                                   : Bank Jabar Banten
No Rekening                                 : 0007738031100
Atas Nama                                    : SDN Karanganyar III
No. NPWP                                    : 00.507.731.8-443.000
7.      Luas Lahan                                   : 3700 m2


8.      Jumlah Siswa dalam Tiga Tahun Terakhir
Kelas
Jumlah Siswa
2010 / 2011
2011 / 2012
2012 / 2013
I
18
18
20
II
25
19
18
III
21
26
21
IV
33
20
26
V
34
34
20
VI
20
33
34
Jumlah
151
150
139

9.      Tenaga Pendidik dan Kependidikan        :

No
Kualifikasi
Jenis Kelamin
Jumlah
L
P
1
Sarjana (S3)
-
-
-
2
Sarjana (S2)
-
-
-
3
Sarjana (S1)
3
3
6
4
Sarjana Muda (D3)
-
-
-
5
Diploma II (D2)
1
3
4
6
Diploma I (D1)
-
-
-
7
SLTA
1
-
1
Jumlah
5
6
11

10.  Struktur Organisasi SDN Karanganyar III terlampir

B.     Peranan Aplikasi Dapodik
Setelah diluncurkannya program Aplikasi Dapodik, kegiatan pengentrian data berubah, dari yang manual menjadi digital. Setiap sekolah dirangsang untuk menjalankan kegiatannya melalui Teknologi Informasi, dan setiap sekolah tidak bisa lagi memanipulasi data karena akan berhubungan dengan program-program pemerintah yang berhubungan dengan pendidikan.
SDN Karanganyar 3 adalah salah satu sekolah yang sedang menjalankan program ini. Apabila dikomparatifkan kegiatan khususnya pengelolaan manajemen peserta didik sebelum adanya program aplikasi dapodik, ada perbedaan yang signifikan. Sebelum adanya program kegiatan entri data (pendataan) dilakukan secara manual dan kearsifan data biasanya tidak terlalau tertib. Tetapi setelah adanya aplikasi dapodik data yang tersimpan bisa digunakan untuk kegiatan apapun, lebih effektif, effisien, hemat dan memangkas biaya yang lebih murah.
Pendataan secara komputerisasi, memudahkan dalam pengarsifan, data bisa disimpan lebih lama tanpa harus menyimpannya dalam gudang dan ruangan yang luas. Aplikasi Dapodik dirancang dengan Teknologi Informasi salah satu keunggulannya bahwa data sekolah bisa langsung diakses oleh pusat (Kemendiknas) dan ini terbukti dari bantuan yang diterima sesuai dengan data yang ada. Salah satu contohnya adalah penerimaan dana BOS sesuai dengan data peserta didik yang telah di laporkan melalui Aplikasi ini.
Didalam aplikasi ini terdapat beberapa menu-menu untuk pengelolaan peserta didik. Selain pendataan peserta didik yang sangat lengkap, didalamnya terdapat beberapa menu untuk merekam peserta didik dalam kegiatan proses pembelajaran. Misalkan hasil nilai, dalam aplikasi ini bisa di input dan dilaporkan secara online kepada orang tua. Selain itu proses untuk penomoran peserta didik dengan mendapatkan NISN bisa langsung dari aplikasi ini.
Banyak sekali peran Aplikasi Dapodik dalam menunjang pengelolaan peserta didik, hal ini memudahkan sekolah khususnya SDN Karanganyar 3 untuk lebih meningkatkan pelayanan terhadap peserta didik.  Kegiatan utama dalam pengelolaan peserta didik adalah dengan cara pendataan yang komprehensif dan akurat. Data ini dijadikan dasar untuk kepentingan sekolah dalam kegiatan-kegiatan program sekolah. Dalam pendataan peserta didik Langkah-langkah yang dilakukan dalam  rangka  mempersiapkan proses pendataan akan diuraikan sebagai berikut.
1.      Ditjen  Didkas  mengirim  surat  yang  berisikan  Petunjuk  Teknis  Pendataan,  DVD  dan nomor  register   kepada  seluruh  sekolah.  Nomor  register  ini  bersifat  unik  untuk setiap  sekolah  (berbeda  antar  sekolah).  Oleh  karena  itu,  nomor  register  ini  agar digunakan hanya oleh petugas pendataan di sekolah masing-masing dan disimpan.
2.      Setelah sekolah menerima surat tersebut, sekolah diharapkan menginstall software tersebut  di  komputer  sekolah  dan  belajar  secara  mandiri  (atau  meminta  bantuan kepada pihak lain).
3.      Ditjen  Dikdas  akan  melatih  Tim  Data  Kabupaten/Kota  untuk  dapat  menguasai penggunaan  software  sistem  pendataan  dengan  tujuan  agar  dapat  menjadi  narasumber  di  kabupaten/kota  masing-masing  apabila  ada  pertanyaan/kesulitan dari  sekolah.  Direkomendasikan  agar  Pemda  Kabupaten/Kota  melatih  sekolah dengan dana dari sumber APBD. Akan tetapi, apabila tidak dapat dilakukan pelatihan akibat  tidak  adanya  dana  di  kabupaten/kota,  proses  pendataan  dari  sekolah  tetap berjalan, tidak harus menunggu adanya pelatihan dari kabupaten/kota.    
4.      Pemda  Kabupaten/Kota  dilarang  melaksanakan  pelatihan  kepada  sekolah  dengan biaya yang dibebankan kepada sekolah (misalnya dari dana BOS).
5.      Ditjen  Dikdas  akan  membuka  akses  pendampingan  kepada  Dinas  Kabupaten/Kota,selanjutnya  Dinas  Kabupaten/Kota  melakukan  pendampingan  kepada  sekolah apabila mengalami kesulitan.
Setelah persiapan selesai maka kegiatan selanjutnya adalah proses penginputan data, mekanisme yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Sekolah  menggandakan/mengcopy  formulir  sesuai  dengan  kebutuhan.  Misalnya untuk formulir F-PD digandakan sebanyak jumlah siswa, demikian juga F-PTK.
2.      Sekolah  membagi  formulir  kepada  individu  yang  bersangkutan  untuk  diisi  secara manual selanjutnya dikumpulkan oleh sekolah.
3.      Sekolah  memasukkan  data  kedalam  sistem  database  yang  telah  disiapkan  oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kemdikbud.
4.      Pengisian  data dilakukan  di  sekolah  (di  komputer  milik  sekolah) oleh  petugas yang ditunjuk oleh kepala sekolah.
5.      Apabila dalam keadaan tertentu, pengisian data tidak dapat dilakukan oleh sekolah karena tidak ada komputer/listrik atau tidak ada tenaga yang mampu, sekolah dapat melakukan ditempat lain dengan mempertimbangkan efisiensi biaya dan keamanan kerahasiaan data. Jika memungkinkan, disarankan dilakukan di sekolah lain  terdekat yang  memiliki  fasilitas  komputer  dan  tenaga  yang  terampil  atau  di  Kantor  Dinas Pendidikan Kecamatan/Kabupaten.
6.      Sekolah harus selalu mem-backup data yang telah dientri.
7.      Formulir yang telah diisi secara manual oleh siswa/guru/sekolah harus disimpan di sekolah masing-masing untuk keperluan monitoring dan audit.
8.      Setelah  data  selesai  dimasukkan  oleh  sekolah  kedalam  sistem  database,  sekolah mengirim  data  tersebut  secara  on-line  ke  server  di  pusat  dengan  cara  sesuai petunjuk yang ada dalam DVD.
9.      Setelah data terkirim  ke server secara  on-line  sekolah  melakukan  verifikasi data kekab/kota  dengan  membawa  bukti  fisik  berupa: daftar  absensi  siswa  (softcopy data hasil  entry,  absensi  kelas,  dan  dokumen  PTK  (Ijasah,  KTP,  NUPTK  dan  SK Pengangkatan).











BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya :
1.      Manajemen Peserta Didik adalah salah satu komponen dari keseluruhan manajemen pendidikan, dan komponen ini dipandang sebagai komponen inti, karena merupakan subyek sekaligus objek dalam proses penyelenggaraan pendidikan dan transformasi ilmu pengetahuan.
2.     Manajemen Peserta Didik memiliki fungsi dan peran sangat penting dalam mengantarkan peserta didik untuk mengembangakan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosial, aspirasi, kebutuhan dan segi-segi potensi peserta didik lainnya.
3.     Peranan Aplikasi Dapodik dalam Manajemen Peserta Didik adalah suatu proses pendataan tingkat sekolah dengan aplikasi (software) secara digital untuk memperoleh data secara langsung yang cepat, akurat, valid,  lengkap,  dapat dipertanggungjawabkan dan termutakhir, yang bisa diakses secara langsung oleh pusat karena mempunyai sistem online.
4.     SDN Karanganyar 3 sangat terbantu sekali setelah menggunakan Aplikasi Dapodik, karena data yang didapatkan lebih mudah bisa digunakan untuk kegiatan apapun, lebih effektif, effisien, hemat dan memangkas biaya yang lebih murah.